Si Jalang

Si jalang. Sibuk malang melintang. Air mukanya tampak gelisah. Dirinya sangat bersalah. Si jalang. Sedang berusaha mencari terang. Dia sendiri yang membawa kelam. Jadilah masa depannya suram. Si jalang. Berdiam di tanah gersang. Menanti mentari benderang. Memurka dan memanggang.

Advertisements

Berhenti

Seperti menguyah batangan coklat, terasa manis, kau menikmatinya. Namun kau akan menangis karena kelebihan berat badan. Dan fluktuasi kadar gula pada darahmu, akan menyisakan penderitaan.   Sejenak, aku menghela nafas. Berhenti menarik asap dari gulungan yang membara. Menyeruput secangkir kopi hitam pahit dengan penuh nafsu. Birahi terpendam, amarah membisu.   Menatap langit - langit, Tidak… Continue reading Berhenti

Diam

Letih tak selalu berpeluh. Mati tak selalu menduka. Ada yang diam, memendam, membungkam, hingga akhirnya tenggelam. Berbagi rasa bukan perkara mudah, bagi manusia seperti dirinya.   Dia pernah bersalah, memohon ampun pada semesta.   Tapi kau berlagak tuli. Dia kini sedang belajar merelakan, berusaha merangkai kembali hidupnya yang luluh lantak.  

Berhenti, Bagian 2

Untuk apa berbagi kasih, kalau masih saling menghakimi. Untuk apa mengampuni, kalau hanya ingin menabur benci. Kali ini, aku berhenti. Berhenti, mebalikkan lembaran untuk digoresi. Berhenti, mencari buku baru untuk dicaruti. Mungkin, menggali hal baru untuk dijalani. Sebuah epiphany. Selalu gagal menuliskan kisah dengan akhir gembira. Namun, aku selalu bisa menyelesaikan sebuah cerita. Tanpa perlu… Continue reading Berhenti, Bagian 2