Kenaikan Harga Rokok: Petaka atau Solusi bagi Mahasiswa (Perokok)?

Wacana kenaikan harga rokok di Indonesia menjadi perbincangan hangat di berbagai media. Pemerintah mengaku mendengarkan usulan kenaikan harga rokok menjadi Rp 50.000 per bungkus, bahkan Ketua DPR RI Ade Komarudin, dilansir dari kompas.com, menyetujui wacana kenaikan harga rokok dengan alasan untuk mengurangi kebiasaan merokok masyarakat.

Apabila wacana ini direalisasikan, tentu akan menimbulkan berbagai efek bagi berbagai lapisan masyarakat di Indonesia karena berdasarkan data yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2013, jumlah perokok di Indonesia yang berusia 10 tahun ke atas adalah 58.750.592 orang. Tidak hanya memengaruhi secara sosial budaya, namun juga akan berpengaruh pada perekonomian nasional Republik Indonesia sendiri.

Pada tulisan ini yang akan dibahas bukan bagaimana nasib petani tembakau, buruh dan pegawai industri tembakau, APBN, dan sebagainya. Namun, bagaimana dampak bagi mahasiswa (yang aktif merokok) akibat dari kenaikan harga rokok yang melambung tinggi.

Harga rokok yang melambung tinggi bisa menjadi sebuah bencana bagi mahasiswa yang merokok (seperti saya). Sifat rokok yang menyebabkan candu, menjadikan rokok sebagai kebutuhan pokok beriringan dengan nasi, dan fotokopi. Dari sisi ekonomi, finansial mahasiswa sangat terbatas sumbernya, dari kiriman orang tua atau hasil kerja sambilan.

Apabila saya menghabiskan sebungkus rokok per hari dengan harga Rp 17.000 per bungkusnya dan dikalikan 30 hari, saya menghabiskan Rp 510.000 per bulannya hanya untuk memenuhi keinginan candu saya.

Bayangkan apabila harga rokok menjadi Rp 50.000 per bungkus, maka saya akan menghabiskan seluruh uang saku saya untuk memenuhi kebutuhan akan rokok selama satu bulan. Petaka. Sebuah bencana untuk saya.

Tunggu.

Bagaimana apabila dampak kenaikan rokok mendorong mahasiswa seperti saya, mengurangi intensitas dan kuantitas merokok. Saya pernah mendengar quote dari seorang teman, “Kalau kepepet duit, ujung – ujungnya ngurangin.”
Bukankah ini menjadi hal yang baik bagi teman – teman mahasiswa yang merokok? Baik dari sisi finansial sampai dengan kesehatan?
Apabila saya tidak merokok, akan saya apakan uang yang biasanya saya habiskan untuk rokok?
Sejak beredarnya isu kenaikan harga rokok beberapa hari lalu, saya telah merencanakan untuk berhenti. Uang yang saya habiskan untuk rokok itu, akan saya sisihkan untuk keanggotana di gym dan sisanya akan saya tabung untuk reksa dana.
Kebugaran tubuh meningkat, dan saya punya penghasilan.

Bagaimana dengan anda? Tetap merokok dengan pengorbanan lebih? Atau berhenti dan mencari solusi?

Namun, ini semua masih wacana. Apapun keputusan Pemerintah, saya mendukung. Bagaimana dengan anda?

1 thought on “Kenaikan Harga Rokok: Petaka atau Solusi bagi Mahasiswa (Perokok)?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s