Delusi Insomnus

Dan tak jarang,

Aku berdelusi.

Terjebak dalam indahnya rekaan,

memperbudak diri dalam angan.

 

Bicara sekarang,

Bermimpi pun aku tak sudi.

Dipecut oleh kejamnya kenyataan,

Mencerca kehidupan karena Tuhan.

 


 

Aku malu,

kembali ke tempat ini hanya untuk seonggok nasi.

 

Aku malu,

memijakkan kaki kemari namun tak menggenggam ragi.

 

Aku malu,

Selalu berlari, hanya untuk mati.

 


 

Kala ketika amoeba enggan tuk membelah diri,

Protozoa bersenandung lagu – lagu orang mati,

Para Coccus menguyah alat kelamin,

Haruslah engkau terjaga,

Mengawasi para pecundang kelas dua.

Karena kami yang kau sebut babi kapitalis,

menjadikan feses yang kau makan setiap kamis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s